OPREC UKM LEPPIM UPI 2012

Salam Ilmiah! :D Dalam rangka tahun perkuliahan baru, kami dari UKM LEPPIM UPI mengadakan OPREC UKM LEPPIM UPI 2012. Formulir ini ditujukan bagi kamu-kamu yang memiliki passion di bidang penelitian, kepenulisan, dan penalaran. Bagi kamu yang ingin mendaftar, silahkan buka blogpost ini :D

Plagiarisme Ditinjau dari Aspek Hukum dan Latar Belakangnya

Salam Ilmiah! Sahabat, adakalanya dalam penelitian kita harus berhati-hati dalam mengutip suatu teori atau pernyataan yang kita dapat dari sebuah jurnal, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dan karya ilmiah lainnya. Bila kita lupa atau lengah sedikit saja dengan tidak menuliskan asal sumber kutipan yang kita ambil dari karya ilmiah tersebut, bisa-bisa kita terjerat plagiarisme!

Pinus - Carpon Sunda

amun ahirna kaayaan Bapa terus jiga kieu, lamun ieu teh mangrupa takdir nu dibikeun ka kuring, keun weh, antep sagala kaayaan jiga kieu, angger jiga kieu, ngan kuring yakin, ieu tangkal pinus teh mangrupa takdir sejen nu didatangkeun ku pangeran keur nyalametkeun dunya hususna Bapa.

Joker's Phylosophy

Joker, adalah seorang bodoh diantara yang lain. Dia berbeda dengan yang lain. Dia bukan klub, berlian, hati, atau sekop. Dia bukan delapan atau sembilan, atau seorang raja atau jack. Dia adalah orang luar, orang aneh, orang asing. Ia ditempatkan dalam satu paket yang sama seperti kartu lainnya, tetapi ia bukan milik siapa-siapa. Oleh karena itu, dia dapat dihilangkan tanpa siapa pun merasa kehilangan.

Aforisme Sirius dan Betelgeuse

Aku tidak tahu kapan tepat pertama kalinya aku menengadahkan kepala lalu melihat sekeliling langit yang lamat-lamat menggelap, apakah itu saat aku masih menjadi anak ingusan bau kencur atau saat menjadi remaja kecil yang senang dengan hal-hal baru.

Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Kecil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2012

Sapere Aude! Kritis untuk Kreatif

 Oleh Nurul Aisyah

Dimidium facti qui coepit habet: sapere aude, incipe
He who has begun is half done: dare to know!


            Dewasa ini manusia-manusia abad 21 disibukkan dengan ketatnya persaingan. Setiap individu dalam masyarakat dituntut untuk memiliki kompetensi yang lebih guna menyikapi persaingan tersebut. Namun, kredibilitas dan kompetensi lebih saja belum cukup, Dewasa ini, dunia sedang berada pada zaman dimana dalam waktu sekejap saja manusia dapat dengan mudah naik ke puncak popularitas, namun dengan sekejap pula manusia dapat terbuang seperti sampah yang tidak bermanfaat.            
Dunia cenderung pragrmatis, lebih memperhatikan orang yang jauh memberi manfaat dan memiliki nilai plus dibandingkan dengan mereka yang biasa-biasa saja. Dari masalah ini dapat disimpulkan bahwa untuk bertahan dengan kondisi yang serba nisbi setiap individu harus memiliki naluri mencipta guna melahirkan inovasi-inovasi yang menginspirasi masyarakat luas sehingga masyarakat tidak akan lupa begitu saja, juga agar individu tersebut mampu bertahan dalam persaingan yang serba ketat. Naluri mencipta atau kreativitas ini terlahir dari pola pikir yang aplikatif, analitis dan sintesis yang jika disimpulkan akan membentuk sebuah padanan kata yang disbut, kritis.           
Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir secara reflektif dan independen dengan jernih dan rasional. Menurut Scriven & Paul (1992) berpikir kritis adalah proses intelektual yang dengan aktif dan terampil mengkonseptualisasi, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan dari pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, untuk memandu keyakinan dan tindakan.           
Berpikir kritis berhubungan dengan kemampuan untuk menyimpulkan informasi dan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dalam pemecahan masalah. Berpikir kritis tidak sama dengan menghapal karena menghapal cenderung mengakumulasi informasi tanpa mengolahnya secara apik.            
Berpikir kritis juga tidak sama dengan mengkritik, karena sejatinya, pemikir kritis akan berusaha menjaga kejernihan rasionya dengan memelihara sifat-sifat netral dan objektif dalam mengemukakan pendapat, walau mungkin saja seorang pemikir kritis akan mampu mengendus informasi yang bias lalu mengintrospeksinya.           
Berpikir kritis berimplikasi pada penciptaan solusi kreatif terhadap suatu masalah, dalam kata lain berpikir kreatif berguna untuk merangsang lahirnya ide baru, mengevaluasi ide baru, juga memodifikasi ide baru.           
Bila dianalogikan sebagai sebuah jembatan, berpikir kritis merupakan bahan bakar bagi individu agar dia dapat melintasi jembatan pemahaman, aplikasi, dan analisis sehingga pada akhirnya seorang individu tersebut tiba pada ujung jembatan, yaitu kemampuan berpikir dengan level paling tinggi; sintesis, kreativitas, atau kemampuan dalam mencipta.***



 ©Nurulaaisyah 2012

Jumat, 01 Juni 2012

Saya ENJOY Jadi Orang Indonesia


Di Indonesia ini, banyak sekali hal lucu, termasuk suatu pernyataan yang cukup populer namun bagi saya hal ini terdengar begitu menggelikan, yaitu: Saya malu menjadi orang Indonesia. Entah mengapa ada beberapa orang yang menyebutnya begitu lantang dan tak malu pula menyatakan dirinya malu menjadi orang Indonesia, sungguh pernyataan mereka sendirilah yang memalukan!

Ya, memalukan! Kalau memang malu menjadi orang Indonesia, mengapa tidak membuat dirinya sendiri bangga dengan cara berprestasi atau melakukan hal yang berguna bagi bangsanya? Bukankah itu akan meningkatkan rasa kepercayaan diri menjadi orang Indonesia? Terkadang kita terlalu sibuk berkata-kata tapi sedikit bergerak, bagaimana bangsa ini mau maju bila hanya gini-gini aja masyarakatnya? Hanya bisa bilang malu, tapi tidak melakukan apa-apa untuk menghilangkan rasa malunya. Sama saja bohong! Omong kosong tak bermutu!

Seharusnya kita bisa melakukan hal yang terbaik buat bangsa ini agar tidak ada lagi kata-kata "malu" menjadi orang Indonesia, contohnya yaitu mencoba berprestasi dalam berbagai hal, terutama dalam kancah Internasional. Hal ini sangat penting karena menyangkut pada harga diri masing-masing orang juga rasa nasionalisme masing-masing individu. Andaikan kita dapat melakukan hal yang cukup berarti bagi bangsa dan negara ini, tentu kita-kita juga yang bangga untuk menjadi "Orang Indonesia". Bukan hanya berkata "malu" saja tanpa melakukan sesuatu yang dapat memperbaiki citra diri kita sebagai masyarakat Indonesia.

Mungkin bagi beberapa dari kita perlu merasa "Enjoy" menjadi orang Indonesia, tidak selalu terpuruk pada rasa malu saja. Enjoy sajalah kita sebagai masyarakat Indonesia, jangan terlalu memikirkan berbagai aib bangsa ini yang tak kunjung tertutupi, seperti korupsi, terorisme dan lain-lain, karena hal itu hanya menambah buruk kepercayaan diri kita saja. Tetaplah Enjoy, agar kita tidak merasa terkucilkan oleh rasa malu, tapi jangan pula terlalu Enjoy karena hanya akan menimbulkan sifat terlalu cuek nantinya.

Suatu hal yang perlu dilakukan bagi masyarakat mungkin bersikaplah Enjoy terhadap apa yang terjadi, tidak terlalu menganggapnya sebagai aib bagi mereka sendiri sehingga merasa malu menjadi masyarakat Indonesia, tapi tidak lupa untuk bersikap aktif dan berpartisipasi dalam memajukan bangsa sendiri. Itulah yang kita semua inginkan! Kebanggaan atas bangsa sendiri, bukan bangga yang masyarakatnya terlalu terpuruk dengan rasa malu.

MULAI SEKARANG, MARILAH KITA MENYATAKAN DIRI KITA DENGAN LANTANGNYA BAHWA : SAYA ENJOY JADI ORANG INDONESIA!

Mahasiswa, Bahasa Indonesia, dan Budaya Ngaret

Mahasiswa disebut kaum intelektual. Intelektual berarti kaum yang kritis dan memandang sesuatu lebih mendalam. Karena intelektual juga, mahasiswa selalu berada di garis terdepan dalam memperjuangkan keadilan bagi rakyat. Contohnya saat menggusur rezim Soeharto, mahasiswalah yang menjadi pelopor.
Mahasiswa memang elemen penting yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan negara kita. Para pemberontak penjajah dan penggagas kemerdekaan pun muncul dari kaum mahasiswa. Jadi, mahasiswa mempunyai andil besar dalam kemunduran dan kemajuan negara kita.
Namun, dari segala keintelektualan tersebut, ada satu budaya jelek yang dimiliki mahasiswa, yaitu budaya ngaret. Ngaret adalah proses keterlambatan atau tidak tepat waktu. Ngaret tersebut telah menjadi budaya yang tidak bisa dijauhkan dari mahasiswa. Meskipun, harus diketahui juga bahwa tidak semua mahasiswa suka ngaret, ada beberapa atau sekian banyaknya mahasiswa yang selalu tepat waktu. Namun, tidak bisa dimungkiri juga budaya ngaret memang ada dan mewabah. Dalam berbagai kegiatan ngaret selalu mengiringi.
Dari pengamatan dan pengalaman penulis, ngaret di kalangan mahasiswa bisa terjadi di kegiatan perkuliahan dan nonperkuliahan. Di kegiatan perkuliahan, mahasiswa sering tidak tepat waktu masuk kuliah dan mengumpulkan tugas. Di kegiatan nonperkuliahan yaitu dalam himpunan atau organisasi mahasiswa (Ormawa), mahasiswa selalu ngaret dalam berbagai kegiatannya. Namun, dalam kegiatan nonperkuliahan ini, kebanyakan ngaret dalam kegiatan nonformal, dalam kegiatan formal seperti sidang pemilihan ketua himpunan, rapat kerja dll. mahasiswa selalu tepat waktu. Sementara kegiatan nonformal seperti kajian mata kuliah, olahraga bersama, kultum bulanan, buka puasa bersama mahasiswa selalu ngaret.
Mengapa budaya ngaret ini sangat sulit untuk dihilangkan?
Banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut sulit dihilangkan, dari sekian banyak faktor tersebut, linguistik punya penjelasan. Dalam linguistik ada sebuah hipotesis yang sangat terkenal. Hipotesis tersebut dikemukakan dua linguis yaitu Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf. Hipotesis mereka menyatakan bahasa memengaruhi kebudayaan. Lebih jelasnya, bahasa itu memengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya (A. Chaer, 1994). Contohnya orang-orang Sunda sangat mengagung-agungkan tata krama dalam bersosial. Hal tersebut bisa terjadi karena dalam bahasa Sunda ada undak-usuk basa (speech levels) . Undak-usuk basa ini yang membedakan bahasa menjadi bahasa kasar, lembut untuk diri sendiri, lembut untuk orang lain. Seperti sakit yang mempunyai tiga padanan, ada gering (kasar), udur (lembut untuk diri sendiri), teu damang (lembut untuk orang lain).
Lalu orang-orang yang bahasanya mempunyai kategori kala (tenses), membuat orang-orang tersebut terikat dan menghargai waktu. Seperti dalam bahasa Inggris dan beberapa bahasa di Eropa yang mempunyai kategori kala. Para penutur bahasa tersebut sangat menghargai waktu dan tidak ngaret.
Maka, jelaslah mengapa mahasiswa (juga orang Indonesia umunya) suka ngaret karena dalam bahasanya tidak ada kala seperti bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lainnya. Dalam bahasa Inggris untuk menyatakan sesuatu yang sekarang (present) dan lampau (past) terjadi perubahan pada verb (kata kerja). Misalnya dalam kalimat “I cook balado now (Sekarang), bandingkan dengan kalimatI cooked balado yesterday (lampau)”. Pada dua kalimat tersebut terjadi perubahan verb dari cook yang verb tipe satu ke cooked yang verb tipe 2. Sedangkan bahasa Indonesia tidak bersistem seperti itu, untuk menyatakan dua kejadian tersebut cukup menambahkan keterangan waktu tanpa melakukan perubahan pada verb.
Hipotesis Sapir dan Whorf memang sangat unik. Namun, harus diketahui bahwa hipotesis ini banyak dipertentangkan dan ditolak para linguis. Banyak dari para linguis yang telah melakukan penelaahan dan penelitian mendalam tentang hipotesis Safir dan Whorf dan hasilnya menolak hipotesis mereka. Yang lebih banyak diimani kebalikan dari hipotesis Sapir dan Whorf, yaitu budaya memengaruhi bahasa. Tetapi, patut dicoba juga, apakah betul bahasa memengaruhi budaya? Mari kita coba masukan kategori kala dalam bahasa Indonesia, semoga saja dengan begitu budaya ngaret bisa hilang. Hehe.
***
Muhamad Patoni, Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Penggiat Sanggar Budidaya Linguistik. Member of Linguistic Society of Indonesia.

*Tulisan ini dipublikasikan di Majalah Literat

Jumat, 25 Mei 2012

Mengabdi dan Berkarya

 Oleh : Nurul Aiyah  

Agen Perubahan, begitulah acap kali mahasiswa diberi predikat. Sebagai agen perubahan, sudah sepatutnya mahasiswa menciptakan ide-ide baru demi Indonesia yang lebih baik. Anies Baswedan dalam pidatonya pernah memaparkan bahwa esensi dari dari pemuda adalah ide, anak muda disebut muda karena dia mampu membawa ide-ide segar, keberanian baru, tekad baru, dan keputusan-keputusan baru. Jika keberanian, tekad, ide, dan keputusan merupakan barang lama, maka anak muda bukanlah predikat yang tepat untuk disandang mahasiswa karena mereka hanya pantas disebut orang tua.  
    
          Bila meminjam analogi dalam Fisika, perubahan bukanlah besaran scalar melainkan besaran vector dimana perubahan dapat dianggap sesuatu yang besar atau penting ketika perubahan tersebut dapat mempengaruhi masyarakat banyak dan memiliki arah yang jelas. Sebagai contoh, Theodor Herzl seorang jurnalis yahudi berhasil memberi pengaruh yang sangat besar bagi para yahudi saat dia menulis sebuah pamflet berjudul Deer Judenstaat (The Jewish State, 1896) yang ia tulis sebagai cara advokasinya untuk mendirikan negara yang sekarang dikenal sebagai Israel. Theodor Herzl merupakan salah satu figur yang berhasil membuat perubahan besar, dimana perubahan tersebut tidak hanya mempengaruhi banyak orang namuan juga memiliki tujuan dan arah yang jelas.     

          Perubahan yang memiliki tujuan dan dapat mempengaruhi banyak orang tentu bukanlah hal mudah karena hal tersebut memerlukan proses visualisasi dan implementasi di lapangan, namun hal tersebut dapat diproyeksikan melalui dua kata kerja, yaitu mengabdi dan berkarya.       
Sebuah ide sejatinya masih bersifat tak nyata (intangible) karena tidak dapat dapat dirasakan oleh panca indera si komunikan. Untuk membuat ide menjadi nyata (tangible), penggagas ide sudah sepatutnya menumpahkan ide-idenya dalam sebuah karya. Sebuah gagasan yang dituangkan dalam karya seperti tulisan, sudah sepatutnya akan menjadi berbekas dan abadi seperti yang dikatakan oleh sebuah idiom latin yang berbunyi, Verba Volent Scripta Manent (lisan akan lenyap, sedang tulisan akan abadi), idiom tersebut bukanlah sekedar retorika karena sebuah karya yang besar sudah sepatutnya menjadi abadi di bumi, seperti karya-karya Leonardo da Vinci, Shakespeare, Rabindranath tagore dan lain-lain. 

      Merunut pada definisinya mengabdi erat kaitannya dengan integritas, kesetiaan dan loyalitas. Pengabdian merepresentasikan arah perubahan, ketika seorang mahasiswa mengabdi untuk bangsa, maka pergerakan dan perjuangannya berkiblat pada sebuah arah yaitu kemajuan bangsa.

          Jika karya berbicara tentang ide yang kemudian menentukan besar atau kecilnya sebuah perubahan tergantung pada respon masyarakat, maka pengabdian merepresentasikan arah kemana akan berjalannya sebuah perubahan. Dengan adanya pengabdian dan karya, perubahan menjadi kian berarti bagi arah kebaikan dan kemajuan bangsa.

 © Nurulaaisyah, 2012

Apa yang Indonesia Harus Punya : Catch the Big Idea!


Oleh Nurul Aisyah
Apa yang terlintas di ingatan kita saat kita mengingat guru sains?
Menyeramkan?
Membingungkan?
Atau menakutkan?
Ternyata citra guru di mata saya berubah seratus delapan puluh derajat ketika saya terjun langsung dan mempelajari ilmu pendidikan yang didalamnya terdapat banyak hal yang benar-benar baru bagi saya.
Suatu hari dosen filsafat saya bertanya tentang hal yang simpel, “Siapa itu guru?”
sontak saya menjawab, “orang yang memberi ilmu”
Dosen hanya menjawab dengan senyum lalu menyuruh kami untuk banyak membaca agar kami bisa menemukan jawaban yang lebih tepat. Akhirnya saya dan teman saya teringat dengan percakapan Santiago di novel the alchemist karya Paulo Coelho

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.”
(Paulo Coelho- The Alchemist)
Kamipun kembali pada dosen dan menyampaikan bahwa guru adalah orang yang bisa menginspirasi muridnya untuk terus belajar. Ternyata jawaban kami tidak mengecewakan, beliau bilang, jika tugas guru adalah ‘memberi ilmu’ maka jika kita diberi waktu satu semester untuk membagi ilmu pada murid, waktu tersebut terlalu singkat karena kita memiliki banyak sekali ilmu yang harus disampaikan, jadi apa yang harus dilakukan guru adalah membuat anak-anak penasaran sehingga mereka memiliki keinginan kuat untuk terus belajar.
“Tugas guru bukan hanya mengajarkan bahan ajar, namun mengajarkan bagaimana cara belajar”
Pernyataan bahwa tugas guru adalah ”membuat orang senantiasa belajar’ terdengar lebih mulia. Apalagi saat ‘visi mulia’ itu disimulasikan oleh guru-guru kami.
Barbara Shop berhasil ‘membuat orang senantiasa belajar’ dengan cara menghidupkan inkuiri. Beliau masuk ke lab struktur tanaman lalu menuliskan sebuah pertanyaan di papan tulis, Where does the weight of the big tree come from?, (Dari mana datangnya  berat pada tanaman?) tentu saja hal itu membuat kami sangat penasaran. Kamipun ramai-ramai tunjuk tangan untuk mencoba menjawab. Ternyata saat itu beliau sedang mengajari kami cara mengajar, dan hal tersebut adalah tahap pertama saat masuk kelas: Make the learners are engaged by scientifically oriented questions.
Setelah anak-anak adam ini terpancing dengan masalah, lalu Ms. Shop menginstruksikan sebuah eksperimen sederhana tentang fotosintesis. kamipun akhirnya asyik sendiri dengan eksperimen, namun tak lama setelah itu beliau menyuruh kami untuk mengganti variabel dalam eksperimen sesuai dengan keinginan kami, (maksudnya bereksprimen dengan kehendak sendiri). ini adalah tahapan kedua agar anak-anak ‘menikah’ dengan kesibukannya (Make Learners Giver priority to evidence, which allows them to develop and evaluate explanations that address scientifically oriented question).
Apa yang kami lakukan setelah itu? (ingat, saat itu kami sedang berakting menjadi anak berusia 13-17 tahun), tentu saja kami mengolah data, kami mengolah data-data yang kami dapat dengan menggunakan diagram, tabel atau bahkan gambar. Nah, ini adalah tahapan ketiga saat kita ingin membuat anak-anak keranjingan belajar (Make Learners formulate explanation from evidence to address scientifically oriented questions).
Setelah data diperoleh, kami disibukan dengan banyak pertanyaan, “kok bisa beda hasilnya?”, “kok hasilnya gini ya?,”, “kenapa tanaman ini sulit banget buat fotosintesis?”, “kenapa daun ini sulit banget ngeluarin gelembung?”. Nah, dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu keinginan menganalisis akan hadir dengan sendirinya. Pada akhirnya anak-anak akan belajar dengan sendiri, mengeksplorasi ilmu-ilmu agar bisa memecahkan masalahnya, tentu saja atas kemauan mereka sendiri, tanpa paksaan atau bahkan tekanan. Ini adalah tahapan agar mereka bisa tergila-gila dengan membaca dan mengeksplorasi. (Make learners evaluate their explanations in light of alternative explanation, particularly those reflecting understanding)
Setelah ‘asyik’ menganalisis semua problematika, kami melakukan presentasi untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan kami. Hal yang paling saya suka dari dosen yang cantik dan enerjik itu adalah caranya mengapresiasi orang lain. Beliau memperhatikan kami dengan seksama dan antusias saat kami memberi presentasi, beliau tetap memberi perhatian penuh walaupun aksen kami masih sangat belepotan. Sesekali memberi apresiasi bahwa yang kami lakukan adalah sesuatu yang hebat. Lalu, apa yang terjadi saat kami melakukan hal yang keliru? Itu sama sekali ditolelir karena kesalahan seringkali menjadi akar dari lahirnya gagasan baru (Oia, inget asal-usul yang orang membuat Sticky Note atau Oreo, kan? Kalau saat itu mereka berhasil menciptakan kue dan perekat mungkin ciptaan fenomenal itu tidak akan lahir sampai sekarang.) , ‘belajar dari kesalahan’ begitu katanya.
Begitulah cara agar siswa berani dan percaya diri saat menuangkan ide dan gagasannya, apresiasi yang tetap mengarahkan anak-anak pada jawaban yang benar. (Make learners communicate and justify their proposed explanations).

“Apa ide besar yang kita dapat setelah kita belajar?”
Ternyata inti dari belajar itu bukan menghapal tanpa mengerti, atau mengerjakan 1000 soal tapi ketika ditanya pertanyaan yang mendasar langsung limbung. Inti dari belajar adalah ‘catch the big idea’ dapatkan konsep inti dari apa yang kita pelajari.
Menghapal tanpa memahami hanya akan membuat kita menjadi kambing, siswa hanya mengikuti apa yang ditulis dan dikatakan. Tidak hanya itu, siswa juga hanya akan memiliki kemampuan kognitif di tingkat paling rendah. Namun, jika siswa menemukan konsep? menemukan Ide besar dari apa yang mereka pelajari? ide kreatif akan bermunculan dari benak mereka. Bukan hanya itu, mereka akan menjadi ingat karena mereka memahami apa yang telah mereka pelajari.
Sedikit-sedikit saya semakin mengerti pada perkataan dosen kami juga perkataan Paulo Coelho bahwa guru memiliki arti yang sangat luas, guru adalah orang yang menginspirasi orang lain agar terus belajar. Semoga kita bisa menjadi guru yang baik, pemberi inspirasi yang baik. Semoga kita juga bisa melakukan yang terbaik agar menjadi ‘guru’ yang baik.
Catatan: Where does the weight of a big tree come from?– (Dari mana datangnya berat pada tumbuhan?)
Answer: The weight of a big tree comes from carbondioxide.– (Berat tumbuhan berasal dari gas karbon dioksida)
-© Nurulaaisyah, 2011-

redaksi gambar : http://www.pustakasekolah.com